Salam Persahabatan

SAMPAIKAN KOMENTAR ANDA

Kamis, 25 Desember 2014

KETIKA HARUS BERTAHAN

Rumah terasa lengang, hari ini rencananya Heidy mau menurunkan foto di dinding untuk dibersihkan.  Pandangannya tertuju pada bingkai pernikahanya dengan sang suami, dia tersenyum hambar, teringat perjalanan kehidupan rumah tangga mereka.
Pertama kali menerima pinangannya, Heidy tahu ada konsekwensi yang harus dijalani sebagai seorang istri yang akan masuk ke keluarga besar suaminya. sekalipun suaminya bukan anak tertua, tapi dia anak laki2 yg punya tanggungjawab besar terhadap keluarganya, terutama ibunya.  Ayah yg sudah tiada, anak laki2 tertua yang tidak perhatian lagi terhadap keluarga, membuat suaminya menjadi tumpuan harapan keluarga.   Heidy baru sadar betapa berat beban yang harus dipikul suaminya.  
Tahun pertama menikah dengan kondisi skripsi belum selesai, suami dan dia hanya guru privat, dengan penghasilan yang jauh dari mencukupi, menumpang di rumah mertua pula, dia mencoba berkomunikasi dengan suaminya terkait bagaimana pengelolaan rumahtangga yang akan mereka bina. 
Suaminya hanya tersenyum dan menanggapi dengan ringan, "Ga usah terlalu dibuat rumit, santai saja laahh.... keuangan kita kan masih begini... ada uang kita kelola... ga ada uang... ya tinggal puasa..." Dia jadi teringat saat ibunya masih ada, beberapa kali terjadi diskusi masalah manajemen keuangan rumah tangga, "Seluruh gaji ayahmu diberikannya pada ibu, ibulah kemudian yang mengatur keperluan kalian dan opersional rumah"  "Kenapa tidak ayah yang memegang keuangannya bu?"   "Umumnya para laki2 terlalu menggampangkan penghasilan karena dia pikir dialah yang mencari, jadi biasanya terlalu boros dan mengalokasikan pada hal2 yg kurang perlu.  Tpi kalo perempuan biasanya lebih teliti dan berhati-hati".   Dia ingin sekali membuktikan teori itu, tapi... saat bulan gajian tiba di awal pernikahan mereka, suaminya hanya laporan struk gaji sambil berkata "Gajiku cuma segini, aku pegang saja ya, kalau kamu ada perlu minta saja sama aku"   walau hatinya berontak, Heidy tidak mau mengawali rumahtangga mereka dengan keributan, maka dia pun hanya terdiam.  Saat berkunjung ke rumah Ibu, Heidy mengingatkan untuk memberi Ibu, bagi dia Ibu yang utama untuk dibantu, "Sini aku yang kasih Bang, kata Ibuku almarhumah bagusnya yang ngasih tuh menantu supaya mertua tahu menantunya ridho"   suaminya pun memberikan uang untuk diberikan kepada Ibu, namun.... apa yang terjadi diluar dugaan Heidy " Ibu ga mau terima uang dari kamu, ga enak nerimanya, lagian cuma segitu, gaji Ibu lebih besar dari uangmu "   Heidy terpana, walau merasa tersinggung tak dihargai dia berusaha menahan diri "Kami memang baru bisa ngasih segini Bu, terimalah sebagai tanda bakti kami mudah2an kelak bertambah rezeki"   "Gak ngasih pun Ibu pasti doakan kamu, sudah... lain kali kalau mau ngasih ga usah dari tanganmu, pantang Ibu nerima uang menantu...."   Heidy terkejut dan bingung, namun dia berusaha memaklumi dan tenang.... Ibu berasal dari suku cukup keras karakternya, jadi dia berusaha memaklumi, semenjak saat itu dia tidak pernah terlibat dan mau tahu lagi seberapa besar suaminya memberi uang untuk Ibunya.    Namun yang lebih mencengangkannya adalah ketika dia berkunjung ke rumah para iparnya, tanpa harus bertanya kepadanya, suaminya membagi2kan dana untuk mereka.  Sesampainya di rumah Heidy mempertanyakannya, " Bang, apa ga sebaiknya tanya aku dulu untuk kasih2 ke kakak2mu... mereka kan sudah punya suami dan tidak tergolong kalangan dhuafa....."   " Lah ngasih buat kakak2ku sendiri kok, hasil aku sendiri, buat apa aku tanya2 kamu, kok jadi ribet"   " Kalau kasih ke ibu aku ga protes deh karena itu kewajiban, tapi kalau sama kakak? mereka kan punya suami juga, aku sudah nerimain lho gajimu tidak dikasihkan ke aku, mbo ya sedikit hargai aku dong kalau mau kasih ke mana-mana, jangan mentang2 kamu pegang sendiri trus bisa kamu bagi-bagikan begitu saja, nanti giliran aku minta sudah habis deh bagianku, kamu tuh punya kewajiban  juga lho menafkahi aku"   suaminya terdiam namun kelihatan dia agak gusar.   Dia memang paling tidak suka keluarga besarnya diributkan.  
Ternyata pola ini terus berulang, bahkan sampai gaji suaminya bertambah, bahkan sampai anak bertambah.  Heidy tidak pernah tahu harga2 perlengkapan rumah mereka, atau sekedar harga rumah yang mereka kontrak.  Tahu2 pindah kontrakan, tahu2 perlengkapan rumah tangga bertambah, tanpa ada pembicaraan, kesepakatan, tahu2 suami sudah memberikan apa yang dia butuhkan.   Satu sisi dia senang, karena tidak perlu direpotkan oleh urusan memanaje keuangan, ataupun memikirkan barang2, tapi disatu sisi dia tidak bisa punya simpanan bahkan untuk sekedar membeli keperluan pampers anak, karena boleh dikatakan kebutuhan memasak disediakan harian.  Lama-lama Heidy menjadi terbiasa, dari mulai tadinya mempermasalahkan sampai tidak pernah lagi mempermasalahkan bahkan sampai akhirnya terbiasa, menjalani dengan mengalir, bahkan dia ikuti irama suaminya yang EGP.  Untuk keperluan anak mereka harus pergi bersama dengan suami sebagai kasirnya, bila Heidy akan pergi karena suatu acara baru suaminya memberikan ongkos sesuai kebutuhannya.   
 Sampai kemudian pada suatu masa Allah memberikan pasangan ini kelebihan rezeki, mereka membangun rumah, dan seperti biasa tanpa musyawarah dan mufakat, kalaupun ada musyawarah Heidy sudah tidak bisa berpendapat, andaikata berpendapat akan dengan mudah dipatahkan suaminya.  Lagi2 Heidy menerima begitu saja seperti biasanya.  Seperti ketika dia berencana membangun sekolah, dan modalnya malah dikasihkan ke kakak2 suaminya, Heidy hanya bisa pasrah, walau terbersit kekecewaan, karena sekolah menjadi obsesinya, dia tetap berusaha mengatasinya.....   Heidy berpikir, semenjak awal mereka berumahtangga dengan gaji pas2an sampai kemudian punya gaji yang cukup, mereka tidak pernah bisa menyimpan atau mengalokasikan dana untuk usaha.  Dana habis dibagi menolong saudara2nya untuk usaha walaupun beberapa tidak ada yang terwujud, bahkan sampai harus mengabaikan obsesi Heidy untuk memiliki sekolah.....Ternyata tidak pernah ada perbaikan manajemen keuangan dalam rumah tangga mereka yg sudah mulai menginjak duapuluh lima tahun ini.......
Bagaimanapun Heidy bangga pada suaminya yang begitu berbakti pada Ibu dan saudara2nya bahkan terkadang harus mencari pinjaman untuk menutupi kebutuhan Ibu dan saudara2nya.
Tibalah masa ini... saat suaminya harus kehilangan pekerjaan, tak ada simpanan atau barang yang harus dijual, menutupi kehidupan dengan piutang, sementara Heidy untuk bekerja diluar sudah terpentok usia, menua bersama obsesi dan keinginannya.   Anak2 beranjak dewasa, kebutuhan kuliah dan kos serta kebutuhan sehari2 mereka semakin bertambah, lama2 anak2 sudah bisa membaca buruknya manajeman keuangan orangtua mereka.
Heidy menghela nafas, mengusap foto keluarga mereka dan meletakannya kembali di dinding rumah.

"Yang sulit dalam hidup ini bukan MEMILIH, tapi BERTAHAN PADA PILIHAN. Sedikit waktu mungkin sudah cukup untuk menentukan pilihan tapi butuh waktu seumur hidup untuk BERTAHAN PADA PILIHAN yg kita ambil"


Kamis, 10 Juli 2014

UNGKAPAN SEORANG PENYAIR


Sejujurnya……. Aku malu mengakui bahwa aku masih mencintainya…….. namun ternyata waktu dan keadaan tak mampu membunuh perasaan itu………Bertemu dengannya seperti sebuah mimpi.  Berbagai macam perasaan berkecamuk di hatiku, antara ingin menumpahkan kerinduan, juga ingin menumpahkan kemarahan yang sudah sekian puluh tahun terpendam. 
PASRAH memang adalah sebuah kata akhir, ketika manusia sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi……. Persoalannya sekarang adalah, bukan terletak pada lima huruf tersebut semata, namun bagaimana kemudian kita mengelola yang sudah ada dan meninggalkan masa lalu kita……..  Namun bila kemudian persoalan saat ini ditimbulkan karena SEBUAH MASA LALU YANG TIDAK SELESAI, akankah kemudian harus dibiarkan?
Kenapa aku katakan belum selesai? Karena dia tidak pernah berusaha menyelesaikan dengan cara ”Bagaimana seorang laki-laki yang menghargai wanita menyelesaikannya”, aku menunggu dia untuk menyelesaikannya, sekalipun kemudian memutuskan untuk tidak meneruskan apa yang sudah, pernah dan akan  terjadi diantara kita........ Episode itu diakhiri dengan begitu saja.... tanpa pernah bertemu, menyapa, ataupun saling mengutarakan isi hati masing-masing dengan lisan, karena sebetulnya bila kita melakukan itu waktu dulu, kita masih punya getaran hati yang kuat, yang kemudian akan merubah keputusan kita........... seperti pertemuan kita hari ini.......... yang kita akui masih menebarkan pesona, getaran hati, dan telapak tangan yang berubah dingin, serta pandangan mata yang masih mampu menyihir............
Perjuangannya hari ini untuk bertemu denganku, membuat hatiku pilu, andaikan hal itu dilakukannya waktu dulu......... Berjuang mengorbankan waktu dan tenaga untuk bertemu dan menemuiku di tempat aku merantau, tentu aku akan sangat tersanjung.........bahwa aku begitu dicintainya.......... Ternyata....... dia baru menunjukkannya hari ini......... Ketika kami sudah menjadi milik dan bagian orang lain, aku masih tersanjung........... tapi, tanpa harapan........ Pupus!
TAKDIR, seringkali kita menyalahkan takdir........ padahal takdir boleh kita minta agar berpihak pada kita, dengan do’a dan azzam yang sungguh-sungguh........ sayangnya, pengetahuan agamaku dulu begitu dangkal, aku memahami do’a seolah tak boleh diminta, tapi hanya minta yang terbaik semata......... Ternyata, kita boleh minta yang kita inginkan, kemudian hasil akhir kita serahkan pada-Nya.  Dulu, aku pikir dengan meminta kita malu pada SANG KHOLIQ dan merasa tak pantas....... Padahal kita boleh minta, karena DIA Maha Mengabulkan Do’a.........
Hari ini, aku bahagia bertemu dengannya, sekaligus bersedih, karena pertemuan itu tidak akan pernah membuahkan apa-apa........... 

Cikarang, 14 Juli 2008
curahan seorang perempuan


SEBUAH PILIHAN

           

Disebuah keheningan malam, di saat orang-orang masih terbuai dalam peraduan, terdengar sayup-sayup seorang perempuan melafalkan kalam illahi
“Ahasibannaasu anyutrokuu anyaquulu aamanna wahum laa yuftanuun
Walaqod fatannalladziina minqoblihim falaya’lamnnallohulladziina shodaquu walaya’lamannal kaadzibiin.” (Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan “Kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Alloh pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta)
Berulang-ulang dibacanya ayat tersebut dengan airmata yang tak kuasa dibendungnya, sajadahnya sudah basah, sobekan surat  berserakan disekitar tempatnya sholat, mengadukan seluruh kepedihan hidup hanya kepada-Nya melalui sujud yang panjang, dikeheningan malam.  Sungguh tak disangka akan beginilah jawaban yang dia dapatkan dari seorang laki-laki yang selama ini menghiasi hari-hari dihatinya walau jauh dari pandangan mata, seorang lelaki yang dia yakini akan merajut masa depan dengan kebersamaan membina mahligai rumahtangga bersamanya.  Padahal, dia sudah mempesiapkan diri untuk mendapatkan jawaban ini, karena dia tahu perjuangan untuk menjadi seorang muslimah sejati memerlukan pengorbanan yang cukup tinggi termasuk kesenangan duniawi, maka…..jauh sebelum dia memberikan penawaran pada lelaki tersebut, dalam sholatnya selalu dikumandangkan do’a “ Ya Alloh….apabila dia jodohku, dekatkan, permudahkan dan berikan pula hidayah padanya agar kami bisa membangun keluarga dakwah bersama-sama, namun apabila dia bukan jodohku, jauhkanlah…. beri aku kekuatan,keikhlasan menerima kenyataan yang Engkau berlakukan, berikan aku pengganti yang lebih baik daripadanya….”.   
Sebagai seorang wanita yang  baru semangat dalam memperdalam agamanya, dia menginginkan segala sesuatu berjalan baik, langkah awal yang dia lakukan adalah mengajak kekasihnya untuk memperdalan agama pula agar ketika mereka membina rumahtangga dapat berjalan seiringan, kemungkinan terburuk dari jawaban kekasihnya dia sudah mempersiapkan diri.  Tapi, sungguh…dia ternyata hanya seorang manusia biasa, ketika tawaran pertama tak mendapat tanggapan, dia memberikan penawaran ke dua dengan sedikit mengancam,  dia tidak ingin hubungan mereka tidak ada kepastian, sementara dia sudah tahu bahwa hal ini melanggar etika agama, atau hubungan mereka selayaknya teman, dan….inilah akhir dari penantiannya yang panjang, sang kekasih memberikan jawaban pasti, lebih baik berteman biasa daripada harus melamarnya segera tanpa kesiapan materi yang cukup, walaupun sudah berpenghasilan.  Inilah jawaban yang menghentakkan bathinnya, dia seperti terbangun dari mimpi yang panjang, bahwa dia sudah demikian terlena dari pesona dunia, ah…harga dirinya selaku seorang wanita seperti tercampakan, kesetiaannya seolah tersia-siakan.  Bathinnya menangis, mengharu-biru, inilah rupanya ujian pertama atas kesetiaannya pada sang pencipta, apakah kesetiaan pada makhluk akan mengalahkan kesetiaannya pada sang Kholiq ? dan… seolah-olah sang kholiq ingin membuktikan kasihsayangNya, tak lama dari jawaban yang diberikan kekasihnya, terdengar kabar bahwa ternyata sang kekasih terlibat “cin-lok” alias “ cinta lokasi “, ini semakin membuktikan siapa sebenarnya lelaki yang sudah begitu dicintai selama 5 tahun ini…………

Ternyata, untuk menuju keikhlasan memang bukan suatu hal yang mudah, hampir sama ketika dia harus kehilangan ibu dulu (walaupun lebih berat) berjuang melawan hawa nafsu amarah dan perasaan dicampakan juga bukan suatu hal mudah, “ Kamu tidak dicampakan, tapi kamu diselamatkan, ternyata dia bukan laki-laki yang baik buatmu…” kakaknya berusaha membesarkan hatinya, padahal baru beberapa waktu yang lalu dengan yakinya dia katakan pada ayah, kalau sang kekasih pasti datang melamarnya.  Reaksi dari semua itu adalah dia terkapar sakit cukup lama, seolah sang kholiq memberikan kesempatan pada dirinya untuk berdzikir menenangkan diri, sekaligus instropeksi atas janji setianya pada sang Kholiq, “ Ya Alloh….beri aku kekuatan, beri aku keikhlasan, palingkan aku dari masalaluku yang suram………” tanpa sadar,kebencian dan ketidak percayaan pada lelaki yang pernah menjadi kekasihnya selalu dia hembuskan dalam hatinya seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran dia untuk menerima ketentuan-Nya.
Dua tahun dari kejadian tersebut, seorang ustadzah menawarkan seorang lelaki sholeh, ta’at, walaupun belum berpenghasilan tetap, “ Maaf ibu, bukan saya tidak percaya sama ibu, bisakah saya menguji kesungguhannya?”  “ Ya, tentu saja…”  “ Rumah ayah saya ratusan kilometer dari sini, bisakah dia datang dulu berkenalan dengan ayah dan keluarga saya?”   Begitulah…jauh dilubuk hatinya selaku makhluq yang dhoif memang kadang terlintas kekhawatiran untuk dikecewakan lagi, namun ternyata lelaki ini memang sholeh dan besungguh-sungguh, walau penghasilan belum mencukupi, tempat jauh dicapai, dia datang dengan gagah berani membawa izzah seorang muslim yang memuliakan wanita, mengemukakan kesungguhan, untuk segera datang melamar……
Malam ini, perempuan itu tafakur lagi, sajadahnya basah, tapi kali ini dia menangis bahagia, bahagia karena dia bisa memerangi hawa nafsunya, bahagia karena ternyata Alloh dengan cepat memberikan pengganti seorang lelaki yang lebih baik dari lelaki kemarin, bahagia karena esok hari akan ada seorang lelaki sholeh meminang sekaligus menikahinya, walau perasaannya sebagai manusia biasa terhadap lelaki bekas kekasihnya dulu seringkali timbul tenggelam antara cinta dan benci, namun dia yakin selama kedekatannya pada sang Kholiq tetap dijaga, maka Dia akan menjaganya pula “ Intansurullohu yansurkum, wayutsabit aqdamakum” – Barang siapa menolong agama Alloh, maka Alloh akan menolong mereka.

Bekasi, mei 2006
Diilhami dari cerita seorang teman

Ummu Mush’ab

Sabtu, 01 Februari 2014

KISAH PERTAPA DAN KEPITING

Suatu ketika di sore hari yang sejuk nampak seorang pertapa muda sedang bermeditasi dibawah pohon tidak jauh dari tepi sungai. Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba2 perhatiannya terpecah kala mendengar gemerik air yg tidak beraturan. Perlahan-lahan iapun membuka mata dan segera melihat kearah tepi sungai sumber suara tadi berasal. Ternyata, ada seekor kepiting yang sedang berusaha keras mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai supaya tidak hanyut terbawa arus. Melihat hal itu, sang pertapa muda merasa kasihan dan segera mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat tangan yg terjulurpun kepiting tersebut menjepit jari sang pertapa muda sampai terluka. Tapi sang pertapa muda puas dapat membantunya dan kemudian meneruskan meditasinya.
Belum lama bersila dan mulai memejamkan mata, terulang kejadian seperti certitatersebut diatas sampai 2x sampai mengakibatkan jari pertapa muda tambah bengkak . Tiba-tiba datanglah seorang tua yang melihat kejadian itu datang menghampiri dan menegur si pertapa muda. “Anak muda, perbuatanmu menolong adalah cerminan hatimu yang baik. Tapi mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capitnya melukaimu hingga sobek seperti itu?”
Pertapa Muda : “paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya utk memegang benda, dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Maka saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa menolong nyawa mahluk lain walaupun itu hanya seekor kepiting”.
Mendengar jawaban si pertapa muda itu, kemudian orang tua itu memungut sebuah ranting. Ia lantas mengulurkan ranting kearah kepiting yang terlihat kembali melawan arus sungai. Segera si kepiting menangkap ranting itu dengan capitnya.
Orang Tua : “Lihat, anak muda. Melatih sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, yakni utk menolong mahluk lain, tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri. Ranting pun kita manfaatkan bukan?”
Seketika itu si pertapa muda tersadar. “Terima kasih paman. Hari ini saya belajar sesuatu. Mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan kebijakan. Dikemudian hari, saya akan selalu ingat kebijakan yang paman ajarkan”.
Mempunyai sifat belas kasih, mau memperlihatkan dan menolong orang lain adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu untuk anak kita, orang tua, sanak saudara, teman dan siapapun. Tetapi, kalau cara menolongnya salah, seringkali perhatian atau bantuan yang kita berikan bukannya memecahkan masalah, namun justru menjadi bumerang. Kita yang tadinya tidak tahu apa-apa dan hanya berniat membantu malah harus menanggung beban dan kerugian yang tidak perlu.
Karena itu, adanya niat baik dan tindakan berbuat baik seharusnya diberikan dengan cara yang tepat dan bijak. Dengan begitu, bantuan itu nantinya tidak hanya akan berdampak positif bagi yang dibantu, tetapi sekaligus membahagiakan dan membawa kebaikan pula bagi yang membantu.

Minggu, 09 Juni 2013

KEHILANGAN

Rabbi....
Kehilangan demi kehilangan mengiringi setiap derap kehidupan
ibunda tercinta tiada ketika usia belum genap remaja
Bangkit dari kesakitan akibat kehilangan adalah kerja keras luar biasa
Keluar dari nestapa, menjangkau asa.....

Kehilangan orang yg masih hidup
sama sakitnya dg kehilangan org yg sudah tiada
Ada yg secara jasad benar2 tiada
Ada yg secara jasad masih ada, takdir membuatnya tiada
Sesungguhnya mereka sama saja.....
Hidup dalam relung hati kita
Dalam ruang2 kosong jiwa
Mengisi hentakan sejarah lembaran2 kehidupan penuh asa.....
Sulit untuk dilupakan, hanya bisa dkendalikan....

Hidup atau Mati.....
Kehilangan atau kematian
Mereka memberi pelajaran berharga
Hidup menjadi lebih kuat dan bijaksana
Mampu bertahan dalam setiap keadaan
dalam terjangan angin topan maupun bencana
kemudian Engkau menggantikannya dengan kebahagiaan yg memancar.......

Trimakasih Tuhan
atas kehilangan demi kehilangan yg telah engkau berikan
tinggal aku mengolahnya dengan benar
agar jadi menu menggiurkn
untuk kubawa pulang ke istanaMu......

Cikarang, 25/03/2013

Memoar of life filled with loss

Keutamaan Bulan Sya’ban | Bersama Dakwah

Keutamaan Bulan Sya’ban | Bersama Dakwah

Selasa, 14 Mei 2013

KAMI ADALAH.........

Kami adalah bunga-bunga yg tumbuh dalam taman tarbiyah
Berkembang dalam hutan jahiliyah
Mekar dalam tempaan fitnah
Mengharum  dalam tumpukan masalah
 
Kami  ibarat pedang  berduri
 
Membelah bumi dg keyakinan diri
 
Memerangi dg pedang percaya diri

 
Memotong rumput keraguan
 
Akan suatu kebenaran
 
Kami adalah rangkaian pelangi
Cahaya nya memancar dalam setiap desah nafas manusia
Mewarnai setiap tempat dengan keindahannya
Bila tiada selalu dicari
 
 
Kami adalah anak-anak panah
 
Melesat  cepat , membelah badai mihnah
 
Tak surut kaki melangkah
 
Walau lelah, bukan masalah

APAPUN YANG TERJADI
KAMI KAN TETAP BERDIRI
DI GARDA TERDEPAN DAKWAH INI

Kamis, 26 Juli 2012

PERJALANAN ITU...

Selalu ada sesuatu yang bergetar ketika mengunjungi makam Mami, Bapak dan Mbah, melihat rumah jaman dulu dg segala suasananya yg sudah jauh berbeda.   Makam semakin tak terurus, rumah peninggalan mbah tinggal puing, rumah tempat aku tinggal pun sudah tak bersinar lagi, redup.... seperti para penghuninya dulu yg sudah mengisi ruang2 kosong kehidupan selanjutnya.....
pembicaraan dalam keluarga untuk membuat benteng rumah tak pernah selesai dari tahun ke tahun, aku selalu berdoa agar aku punya rizki berlebih dan membangun benteng rumah ini  agar tak habis dimakan tetangga.
Terlalu banyak sejarah kepahitan yg terpatri, sehingga terkadang membuatku tak betah berlama-lama disini, tapi disini aku belajar menahan segala keinginan, belajar menahan kerinduan.   Makan bagiku sebatas kebutuhan sudah tidak lagi sebuah keinginan, karena percuma aku punya keinginan pun tak kan pernah dapat terpenuhi, rindu pada Mami yg telah tiada pun hanya bisa ditahan dg doa penuh deraian airmata, rindu pada belaian kasihsayang Ibu adalah impian yang semu, dan... perlahan aku belajar menahan semua keinginan dan menjalani kehidupan sesuai dengan kebutuhan saja....
Masa lalu memberiku banyak pelajaran berharga, walaupun sisi buruknya aku jadi seperti tidak punya keinginan, semua diikuti sesuai dengan air mengalir saja, kalaupun ada keinginan dan terbentuk dg suatu keadaan aku seperti lebih baik mengalah dan mengubur keinginan.....
Namun, aku melihat sisi baiknya jauh lebih banyak, seperti ketika akhirnya aku harus menjalani pernikahan, aku hanya menyerahkan yang terbaik menurut-Nya, bukan menurut keinginanku, walau dg perjuangan panjang, akhirnya pernikahan itu berjalan
Dan tentu saja, aku jadi lebih bisa menahan keinginan dan lebih mendahulukan kebutuhan
Tentu, pengalamann pahit dan getir akan menjadi sebuah pengalaman berharga manakala kita dapat menyikapinya dengan penuh kesabaran....

Minggu, 08 Juli 2012

PANCARAN CAHAYA

Tepat, hari Ahad 8 Juli 2012......
Engkau memasuki babak baru kehidupan.  Bersama dg teman2 dari seluruh penjuru Indonesia engkau menimba ilmu, mengejar cita2.... walau harus terpisah jauh dari orangtua dan sanak saudara.
Kurasakan kekhawatiran terpancar di matamu, antara senang, khawatir pasti bercampur baur dalam dirimu harus menghadapi semua kondisi di dalam Asrama ini sendirian, kadang engkau merasa tidak percaya diri akankah mampu mengatasi berbagai kondisi selama tiga tahun ini tanpa saudara dan orangtua.
Percayalah nak, engkau tidak sendirian, semua temanmu satu pondokan merasakan hal yang sama, mereka merasa khawatir terhadap kondisi mereka sendiri akankah mampu mengatur dirinya sendiri dengan berbagai aturan yang harus diikuti didalam pendidikan ini.
Untuk mencapai tujuan kadang kita harus meredam semua perasaan, dan berjuang mengatasi semuanya, Abi dan Ummi percaya bahwa kami mempercayakan pendidikanmu pada orang2 sholeh, lingkungan sholeh, untuk kemudian menjaga kepribadian sholehmu dan membantu memancarkannya ke seluruh alam ini.  Dan.... dengan bekal kesholehan itulah kamu mengelola alam ini....
Jadikanlah seluruh teman2mu yang ada di asrama ini adalah sodaramu,kakak2 kelas adalah kakak-kakakmu....Mudarris atau pembinamu adalah orang2 tuamu, mereka adalah penjaga akhlakmu, penjaga ibadahmu, sehingga nafas kemuslimanmu terpancar dan engkau semakin menyadari bahwa seluruh umat muslim adalah saudaramu....
Menangislah nak.... karena itu hal biasa, ketika Abi,Ummi, Kakak dan Adik bungsumu berpamitan meninggalkanmu di Asrama...
Orangtua tak kan pernah berhenti berdoa, tak putus berharap, tak surut berkeinginan, kutitipkan engkau kepada-Nya, menjagamu dalam ketetapan kesholehan, menghindarkanmu dari jebakan kemaksiatan.
Seperti yang selalu engkau katakan tentang kesulitanmu memahami pelajaran sehingga tidak dapat memberikan sumbangsih kebanggaan melalui prestasi belajar, namun engkau ingin mendermakan diri memberikan sumbangsih kebanggaan melalui kesholehan, dan ummi percaya engkau akan dapat mewujudkannya dg pertolongan Allah bersamamu senantiasa,seperti ketika engkau memutuskan untuk bersekolah disini seperti keinginanmu.....
Seperti namamu, MUHAMMAD HASBURROHMAN(Cukuplah Allah Maha Penyayang sebagai penolong)

Selasa, 10 April 2012

MENJADI SAHABAT REMAJA

oleh Lusiana Rachmawati pada 20 Januari 2012 pukul 18:04 ·
Sahabat adalah kebutuhan jiwa
Jika saat ini jiwaku membutuhkan sahabat
Maukah kamu menjadi sahabatku?


“ Ibu pernah baca tuh kak, ktanya kalau remaja laki-laki sudah sering pipis, orangtua harus waspada”
 “ Kenapa emang Bu? “
“ Aku pernah nonton porno beberapa kali, bukan aku yang buka, tapi teman-temanku dan kita semua rame2 melihatnya, pokoknya semua anak laki-laki dikelasku pernah nonton film begituan deh…. “
“ Nonton porno itu seperti merokok, makin diisap makin kecanduan, akhirnya sulit berhenti”  “ Tapi aku tidak terus2an lho bu….. sudah tahu ya sudah, aku tahu lah bu itu tidak baik “
**********
“ Ma, si fulanah itu ternyata sudah pernah begituan lho mah sama pacarnya “ seorang remaja putri usia 13th cerita sama mamahnya “ Trus, kamu mau ikut pacaran?”  “ ih Mama…. Bukan begitu, aku jadi lebih tahu mengapa mama melarangku pacaran, katanya ma, kalau sudah pacaran, menolak keinginan pacar itu ga tega ya ma…..”
*********
“ Masing2 orang punya cara sendiri dalam belajar, ada yg harus smbil dengar sambil nulis, ada yg sambil dengar sambil gambar, macem2 deh pokoknya…..”  anak ke 1 “ aku sih biasanya harus sambil nulis2, baru bisa ngerti….”  Anak ke 2 “ aku nggak tuh, sambil gambar “   anak ke 3 ‘”aku cengo, lihatin bu guru, pak guru baru deh aku ngnerti  anak ke 4 “ aku mau gimana juga…. Ga ngerti tuh apa yang diomongin guru2”
*********
Begitulah sekelumit obrolan remaja laki2 dan perempuan dengan orangtuanya.  Tidak mudah memang berbicara dan ngobrol akrab dengan para remaja, Tapi bila kita faham bagaimana menyeleminya, mereka akn menjadikan kita sebagai sahabatnya dan kita pun akan dengan mudah bersahabat dengan mereka.
Ketika remaja, dunia mereka berubah menjadi tertutup, serba berahasia dan tidak ingin diketahui banyak orang, mereka memandang orangtua hanya penuh dengan nasehat dan larangan, sulit untuk mengerti apa yang mereka inginkan.
Tahukah anda, bahwa sesungguhnya mereka merasa tidak bahagia dan nyaman dengan keadaan mereka yg menurut mereka sedang tumbuh dengan aneh, fisik yang berubah, ketertarikan pada lawan jenis yg sulit diterjemahkan, mereka sedang bingung.... dan mereka merasa malu untuk bertanya dan mendapat penjelasan karena khawatir dicemooh, akhirnya seperti itulah mereka... menyendiri, menutup diri dan lebih nyaman dengan kelompok mereka sendiri.... teman2 sesama remaja...
Berikut ini ada beberapa tips yang dapat dijadikan pegangan untuk mengenal anak2 kita yang sudah mulai tumbuh remaja
11 langkah menjadi sahabat remaja
1.    Dimulai dari waktu.  Sesibuk apapun usahakan selalu bersama anak
2.    Terlibat bukan melihat.  Terlibat dalam aktivitas anak
3.    Jangan tunggu ada saingan.  Jadilah orangtua yang hangat dan senantiasa dinanti oleh anaknya
4.    Menemani bukan memusuhi.  Be a partner not be a parent.  Jadilah teman saat dia membutuhkan kita ada
5.    Melindungi bukan mengurung.  Menjadi pelindung anak dari segala dampak negative lingkungan bukan berarti tidak membiarkannya bersosialisasi
6.    Berbincang bukan berbicara.  Mengobrol dua arah, bukan orang tua bicara, anak mendengarkan
7.    Mendengarkan dengan Aktif.  Antusias dan merespon setiap pembicaraan anak
8.    Tegas, bukan keras.  Tegas pada aturan yang telah dibuat bersama, namun bukan berarti keras dan memaksakan hal yang benar menurut orangtua
9.    Memberi kebebasan.  Membiarkan anak mengemukakan pendapat dan menentukan sendiri apa yang sudah dipilihnya
10.    Ungkapkan, hayati dan jangan bepura-pura.  Segala respon sampaikan dengan antusias tidak kamuflase
11.    Memaafkan dan meminta maaf.  Selaku orangtua harus mau memaafkan anaknya dan tidak segan untuk meminta maaf apabila yang dilakukan orangtua salah

Hukum Islam Tentang Menambahkan Nama Suami Di Belakang Nama Istri


Setelah menikah, terkadang seorang wanita menambahkani namanya belakangnya dengan nama suaminya. Dan banyak seorang wanita muslimah setelah menikah, lalu menisbatkan namanya dengan nama suaminya, misalkan: Maryani menikah dengan Amiruddin, kemudian ia memakai nama suaminya sehingga namanya menjadi Maryani Amiruddin.
Bagaimana pandangan Islam mengenai perihal penamaan ini ? Dalam ajaran Islam, Hukum Penamaan adalah hal yang penting. Setiap laki-laki ataupun perempuan hanya diperbolehkan menambahkan “nama ayahnya” di belakang nama dirinya dan mengharamkan menambahkan nama lelaki lain selain ayahnya di belakang namanya, meskipun nama tersebut adalah nama suaminya.

Karena dalam ajaran Islam. Nama lelaki di belakang nama seseorang berarti keturunan atau anak dari lelaki tersebut. Sehingga, tempat tersebut hanya boleh untuk tempat nama ayah kandungnya sebagai penghormatan anak terhadap orang tua kandungnya.
Berbeda dengan budaya barat, seperti istrinya Bill Clinton: Hillary Clinton yang nama aslinya Hillary Diane Rodham; istrinya Barrack Obama: Michelle Obama yang nama aslinya Michelle LaVaughn Robinson, dan lain-lain.
Hadist mengenai perihal penamaan ini sangat shahih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً
“Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat ALLAH, malaikat, dan segenap manusia. Pada hari Kiamat nanti, ALLAH tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah”
Dikeluarkan oleh Muslim dalam al-Hajj (3327) dan Tirmidzi dalam al-Wala’ wal Habbah bab Ma ja’a fiman tawalla ghoiro mawalihi (2127), Ahmad (616) dari hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu anhu.
Dan dalam riwayat yang lain :
مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ
“Barang siapa bernasab kepada selain ayahnya dan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka surga haram baginya.”
Dikeluarkan oleh Bukhori dalam al-Maghozi bab : Ghozwatuth Tho`if (3982), Muslim dalam “al-Iman” (220), Abu Dawud dalam “al-Adab”
Hadist yang juga mendukung hal ini adalah:
لَيْسَ لَهُ فِيهِمْ – أي نسب – فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
Artinya: tidaklah seseorang mendakwakan kepada selain ayahnya sedangkan dia mengetahuinya kecuali dia telah kafir, barangsiapa yang mendakwakan kepada suatu kaum sedangkan dia tidak memiliki nasab dari mereka, maka hendaklah dia memesan tempatnya dalam neraka (Bukhari – 3508)
اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ) رواه ابن ماجة (2599) وصححه الألباني في صحيح الجامع (6104
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya, maka baginya laknat ALLAH, para malaikat dan manusia seluruhnya”. [HR Ibnu Majah(2599) dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (6104)]
Pemberlakuan yang dibolehkan ialah dengan memberikan suatu keterangan: misalkan Astuti menikah dengan Rahmat, maka silahkan memperkenalkan diri dengan sebutan: Astusti istrinya Rahmat atau hanya dengan Nyonya Rahmat atau Ibu Rahmat.
Hal tersebut di atas tidak berkaitan dengan permasalahan nasab/garis keturunan. Karena di dalam hukum Islam jika Astuti menggabungkan namanya menjadi Astuti Rahmat, hal itu berarti Astuti anak dari laki-laki yang bernama Rahmat.
Tidak kita temukan dalam sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa istri dinisbatkan kepada suaminya, karena para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu para ibu kaum mukminin menikah dengan manusia yang paling mulia nasabnya namun tidak seorang dari mereka yang dinisbatkan kepada nama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan mereka semua masih dinisbatkan kepada ayah mereka meskipun ayah mereka kafir, demikian pula para istri sahabat radhiallahu anhum dan yang datang setelah mereka tidak pernah mengganti nasab mereka.
Kesimpulannya kita sebagai muslim yang memiliki jati diri, yang taat kepada ALLAH Ta’alaa hendaklah kita mencontoh apa yang telah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Semoga bermanfaat.
Sumber: Sajadah Kalbu

Sabtu, 31 Maret 2012

PUSING vs SAKIT KEPALA


Pusing. Suatu kata yang akrab di telinga kita. Sering diucapkan dan dirasakan. Namun, apakah sebenarnya pusing itu? Pusing sebenarnya adalah suatu sensasi di mana penderita merasa kepalanya seperti berputar atau lingkungan sekelilingnya yang berputar. Dalam dunia kedokteran istilah pusing disebut dengan vertigo. Vertigo ini biasanya merupakan keluhan penyakit yang berkaitan dengan sistem saraf.

Lalu, apa bedanya pusing dengan sakit kepala. Jelas beda. Sakit kepala (headache) ialah rasa nyeri atau rasa tidak nyaman yang terjadi di bagian atas kepala, dan kadang menyebar ke wajah, gigi, rahang, dan leher. Sakit kepala ini dibedakan menjadi dua, yaitu (1) sakit kepala primer dan (2) sakit kepala sekunder.
(1) Sakit kepala primer adalah suatu rasa nyeri di kepala yang tidak disertai oleh kelainan yang mendasarinya, meliputi (a) sakit kepala akibat migraine (nyeri kepala sebelah), (b) sakit kepala tipe tegang / tension headache (nyeri akibat kakunya otot di daerah wajah dan leher, dan (c) sakit kepala cluster / cluster headache (nyeri yang menetap di belakang salah satu mata).
(2) Sakit kepala sekunder adalah suatu rasa nyeri di kepala yang disebabkan oleh suatu penyakit atau kelainan di seputar kepala. Sakit kepala jenis ini harus ditanggapi secara serius. Sakit kepala sekunder dapat disebabkan oleh berbagai sebab, antara lain karena kelainan di tenggorokan, telinga, hidung, gigi, mata, dan sebagainya. Sakit kepala sekunder akan hilang dengan sendirinya manakala penyakit yang mendasarinya sudah diobati.
Manajemen Nyeri Kepala
Pengobatan sakit kepala seharusnya didahului dahulu dengan diagnosis pasti penyebab sakit kepalanya. Jika penyebabnya adalah kelainan atau penyakit pada daerah kepala dan leher seperti mata, telinga, hidung, tenggorokan, maupun gigi, maka penyakit-penyakit tersebut harus diobati terlebih dahulu. Namun, secara umum pengobatan nyeri kepala yang paling mudah dan efektif adalah dengan diberi obat analgesik atau penghilang rasa sakit, seperti aspirin atau paracetamol. Namun, obat-obat ini tidak boleh terlalu sering diminum karena dapat menyebabkan tukak lambung, dan penggunaannya pun harus dimulai dari dosis kecil. Oleh karena itu, penggunaan obat dengan resep dokter akan lebih aman untuk kita konsumsi.
Sakit kepala juga dapat dicegah dengan beberapa tindakan, antara lain:
a) Manajemen stress. Hal ini karena penyebab terbanyak dari nyeri kepala adalah stress. Stress emosi dapat memperberat gejala sakit kepala. Pikiran, perasaan, dan behaviour dapat memperberat rasa nyeri, dan memicu gejala nyeri yang berulang.
b) Life style / gaya hidup. Dengan mengubah gaya hidup kita menjadi pola hidup yang sehat, maka hal itu dapat mencegah terjadinya serangan sakit kepala.
c) Olahraga yang teratur, misalnya jalan sehat 15 menit.
d) Tidur cukup.
e) Mengontrol emosi.
f) Relaksasi dan meregangkan otot.
g) Berhenti merokok.
h) Pengaturan nutrisi dan suplemen diet.


Minggu, 25 Maret 2012

KATRESNA

Ngolebat kalangkang dina impenan
Ngagelenyu asih dina lamunan
neuteup geugeut paraket manah
harewos katresna mulangsara kabungah

Teteup deudeuh ngagelenyuan
Geter gerentes hate teu meunang diome
Mirosea dina hate
Katresna, kanyaah jeung kasono
Jadi panindekan salawasna

Pileuleuyan katresna
Kembang manah nu merenah
Najan urang teu munggaran
ngaguar peurih dina manah
mugia bagja kahirupan
salawasna nantayungan
Gusti Allah jadi pamuntangan

Sabtu, 24 Maret 2012

TUA


Kasih......
Biarkan aku tua bersamamu
Merajut amal dari hari ke hari
Aktivitas yang terpuji
Walau.....
Usia semakin senja
Tubuh mulai melemah
Ingatan mulai payah
Aku ingin.... usia tak berlalu sia-sia
Atau... menua tanpa amal bermakna
Kasih.....
Biarkan aku menua bersamamu
Bukan untuk meratapi usia
Tapi terus berkarya
Sehingga ketika saatnya “Pulang”
Banyak pelayat yang datang
Tidak sekedar teman kantor atau relasi semata
Namun ratusan bahkan ribuan orang yang mengenang
Atas ukiran prestasi yang telah ditorehkan
Kasih......
Aku tak ingin.... umurku tenggelam sia-sia
Hanya didunia kita bisa mengukir karya
Suri tauladan untuk ummat manusia
Contoh nyata bagi generasi muda
Bila usiaku sampai.....
Aku ingin.....tercatat sbg penggagas kebaikan
Menorehkan tinta emas dalam kenangan
Kehidupanku dironai kerinduan
Kasih.....
Biarkan aku tua bersamamu
Menyiapkan kuburan jadi rumah terindah
Bertemankan  amal mewangi menyertai
Dihiasi aroma keharuman syurgawi
Yang akan menjadi tempat abadi
Setelah dunia dan alam semesta dihancurkan......
Kasih.......
Izinkan aku tua bersamamu
Tanpa hiasan pikun
Atau emosional tak beraturan
Namun, tetap bijak bestari
Mampu mengendalikan emosi
Sehingga tak menyusahkan yang muda
Dan senantiasa menjadi inspirasi......
Kasih......
Izinkanlah......

Daftar Blog Saya